page contents
Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » COVER STORY » REVOLUSI MENTAL UNTUK MEMAKSIMALKAN BONUS DEMOGRAFI

REVOLUSI MENTAL UNTUK MEMAKSIMALKAN BONUS DEMOGRAFI

(298 Views) September 7, 2016 3:16 pm | Published by | No comment

http://www.majalahtrias.com

Bonus demografi  menjadi anugerah bagi peningkatan kesejahteraan ekonomi  Indonesia dengan diiringi  sumber daya manusia (SDM) berkualitas. Revolusi  mental ternyata  menjadi  senjata  ampuh  memaksimalkan  bonus demografi tersebut.

Dikatakan ‘bonus demografi’   karena  keberhasilan berbagai program  Pemerintah  yang mampu   menurunkan angka vertilitas rentang waktu  sekitar 30 tahun dan  kini Pemerintah  Jokowi-JK  tengah memetik hasilnya.  Tercatat dalam data otentik  Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), tahun 1970  menunjukkan angka vertilitas total 5,6 anak per wanita usia subur dan berhasil ditekan atau diturunkan menjadi 2,6 anak pada tahun 2000-an.

Menurut Kepala BKKBN Surya Chandra Surapaty  patokan rujukan angka 2,6 per wanita usia subur itulah yang kini  menyumbangkan bonus demografi. Tercatat  jumlah penduduk usia kerja atau produktif  15-64 tahun melebihi 50-65 persen dibanding mereka yang tidak bekerja 14 tahun ke bawah dan 65 tahun ke atas. Sayangnya, menikmati bonus demografi itu  penuh tantangan mengingat kualitas SDM  Indonesia masih jauh dari harapan  sehingga menjadi pekerjaan rumah (PR)   bagi Pemerintah dan banyak pihak terkait lainnya untuk menuntaskan persoalan ini.

“ BKKBN  berusaha keras  dengan beragam  program diantaranya  Kampung KB untuk  menurunkannya. Secara nasional, BKKBN diberi mandat untuk  menurunkan  dari 2,6 anak per wanita subur menjadi 2,1 anak per wanita subur  agar terhindar  dari ledakan penduduk dengan berbagai problematik pengiring seperti kian terbatasnya sumber daya makanan dan kian sulitnya sumber daya energi. Laju pertumbuhan penduduk di Indonesia  tercatat kisaran 1,49 persen per tahun, dan kini populasi penduduk Indonesia mencapai kisaran  252 juta jiwa,” jelasnya.

Ukuran kualitas SDM, kata dia,  bertumpu pada dua hal yaitu kompetensi dan karakter. Kompetensi orang Indonesia diukur dari usia sekolah hanya 7,6 tahun yang ekuivalen atau identik  jenjang pendidikan  SMP saja  ternyata tidak selesai. Hanya  berbekal ijazah  SD maka  rata-rata kompetensi penduduk  Indonesia dipastikan rendah, bermental negatif,   dan  karakternya juga rendah.

Surya menunjuk  ‘revolusi  mental’ yang bertujuan  membangun karakter bangsa adalah solusi jitu  mengatasi  persoalan untuk mendongkrak kualitas SDM. Termaktub dalam catatan  sejarah, revolusi mental telah dicanangkan  Bung Karno sejak  1957 yang  mengajak peran aktif seluruh komponen  bangsa untuk  membangun karakter  bangsa melalui revolusi mental.

Ia  masih tergiang apa yang disampaikan  Bung Karno soal revolusi mental itu. Mengutip kata Bung Karno,  revolusi mental adalah revolusi baru untuk menggembleng hidup manusia menjadi manusia putih yang berhati baja, bersemangat elang rajawali, berjiwa api yang menyala-nyala sehingga terbentuk manusia yang berintegritas, beretos kerja dan bersemangat gotong royong.

Integritas itu adalah manusia yang jujur, dapat dipercaya, disiplin, bertanggung jawab, konsisten, dan tidak munafik. Etos kerja artinya mempunyai kemampuan, bekerja cerdas, dan  memiliki  daya saing, produktif, dan  inovatif. Gotong royong artinya mau bekerja sama dan  saling bantu membantu demi kemaslahatan bersama.

“Seperti apa yang diamanahkan  Bung Karno, upaya  memulainya  harus pada diri sendiri   sehingga  bisa menjadi gerakan nasional  secara bersama-sama bukan acara seremonial semata. Dalam konteks inilah, BKKBN siap  mengawal dan melaksanakan revolusi mental itu  yang diimplementasikan  dengan berbagai program yang terarah dan terpadu,”   katanya.

Surya pun lantas merujuk  teori psikologi dalam  membentuk karakter bangsa. Terbentuknya karakter adalah hasil dari komunikasi segitiga, komunikasi antara seorang manusia dengan Tuhannya, komunikasi antara seorang manusia dengan dirinya sendiri, dan komunikasi seorang manusia dengan manusia lain maupun  lingkungannya.

Dari situ,  dikaitkan dengan nilai-nilai yang termaktub pada Pancasila yang bermuara pada    ajaran Trisakti Bung Karno yang  menempatkan  Indonesia pada tiga hal  yaitu;  berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi,  dan berkepribadian secara kebudayaan.

“Itulah tujuan Pemerintahan Jokowi-JK  yang mengusung Nawacita dengan semangat Trisakti  untuk membangun karakter bangsa. Jika karakter ini diabaikan maka akan menjadi bangsa yang tidak berkarakter  dan berpredikat  ‘bangsa kuli’ diantara bangsa-bangsa. Apalagi kini  telah memasuki  MEA, AFTA  dan lainnya sehingga bukan hanya barang dan jasa yang bisa masuk ke Indonesia  tetapi juga tenaga kerja asing,” katanya.

Kawal Nawacita

Peran BKKBN   menjadi  sangat strategis  karena menjadi  pilar penentu masa  depan  bangsa Indonesia dalam percaturan  global.  Kenyataan  tak terbantahkan,  terkait dengan  dengan tugas dan fungsi BKKBN  yang setidaknya mensukseskan  tiga cita yatu cita ke-3,ke-5, dan ke-8 dari Nawacita.

Mensukseskan  kualitas hidup  manusia Indonesia,   melakukan revolusi karakter bangsa, dan membangun Indonesia dari pinggiran dengan   memperkuat  pedesaaan adalah  tiga cita yang kini tengah diperjuangkan BKKBN.Bonus demografi  harus dimanfaatkan dengan   berbagai program yang terencana, terarah, dan terpadu  sehingga puluhan tahun mendatang, rentang waktu 2030-2045,  akan tercipta generasi emas bangsa Indonesia.

“Banyak pakar yang  memprediksikan  dominasi ekonomi dunia yaitu AS dan Eropa akan digantikan oleh negara Brics  yaitu  Brasilia, Rusia, India, China, South Africa.  Indonesia  memang belum termasuk namun  kami optimis  bahwa  dengan Nawacita dan semangat Trisakti,  Indonesia bisa  dan akan masuk   jajaran negara  yang diperhitungkan secara ekonomi itu. Bonus demografi bukan beban namun  peluang yang harus dan wajib kita manfaatkan,” jelasnya.

Sebagai implementasi tiga cita dari  Nawacita itu, Surya  menguraikan tentang  perkembangan pencanangkan Program  Bangun Kampung Keluarga Berencana (KB) 2016. Sejak dicanangkan Program Kampung KB pada Januari hingga Juli 2016, sudah lebih kurang 548 Kampung KB di Kabupaten/Kota.

Tahun  ini dipatok target satu kabupaten satu Kampung KB, yang  nantinya  menjadi satu kecamatan satu Kampung KB pada tahun 2017. “ Kampung KB itu adalah daerah kumuh, daerah miskin dan banyak anak. Jadi nanti pembangunan berwawasan kependudukan langsung dilaksanakan di Kampung KB itu bersama rakyat dan Pemda setempat”, katanya.

Apa program  KB bertautan dengan prioritas pembangunan infrastruktur? Menurut Surya, adanya  Kampung KB itu maka  memberikan pengaruh perubahan pembangunan manusia dan juga  berimbas ke  pembangunan infrastruktur.  Dengan  tagline, “dua anak cukup dan menjadi lebih sejahtera’ maka di Kampung  KB itu dibuat perencanaan program Kependudukan KB dan Pembangunan Keluarga bersama sektor lainnya, seperti kesehatan, pendidikan, perumahan,  dan lingkungan.  ***TP

 

Categorised in: ,

No comment for REVOLUSI MENTAL UNTUK MEMAKSIMALKAN BONUS DEMOGRAFI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *